CATATAN
KECIL SANG PENULIS
Manusia
tak pernah luput dari sebuah masalah kehidupan. Setiap saat masalah selalu
datang menghantui setiap orang. Namun, banyak dari mereka tak mampu menghadapi
setiap cobaan yang datang menimpa.
Lewat
sebuah cerita dari kami yang akan memberikan sebuah gambaran dalam menghadapi
setiap cobaan yang datang dan memberikan solusi dalam setiap masalah sehingga
pemikirin setiap manusia menajdi terbuka dalam mengahdapi segala rintangan.
Sebuah
cerita yang lahir dari sebuah inspirasi sang penulis untuk memberikan sebuah
dorongan dan motivasi bagi para pembacanya.
Cerita
ini mengambil sebuah tema pendidikan dan kehidupan yang begitu melekat dengan
kehidupan dan sebuah masalah yang dihadapi manusia.
Diangkat dari
sebuah benda-benda nyata dan alam sekitar sebagai pembanding dalam kehidupan
manusia.
Sehingga
terlahir sebuah goseran-goresan tinta hitam bermakna “Cerita Inspiratif” yang
nantinya dapat memberikan sebuah dorongan, motivasi serta nilai-nilai penting yang
layak dikejar bagi para pembacanya.
BELAJAR
DARI PENSIL
Oleh : Ni Kadek Dwi
Aryani
Seorang
anak menangis saat perjalanan pulang dari sekolah. Anak ini merasa menjadi
siswa yang sangat bodoh dan tidak mampu mengikuti pelajaran apapun, terutama
pada pelajaran matematika dan bahasa inggris. Dia begitu lemah dalam pelajaran
tersebut. Saat itu ayahnya sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi. Anak
itu pun menghampiri ayahnya dan duduk di samping ayahnya.
“Nak,
kenapa kamu menangis?” tanya ayah dengan bingung. “Ayah, aku tu merasa jadi
siswa paling bodoh rasanya, aku udah berusaha belajar matematika dan bahasa
inggris tetapi gagal terus, temen ku selalu aja mengejekku, ini lah itu lah.
Rasanya aku itu gagal menjadi orang yang pintar”, jawabnya sambil manangis.
“Nak,
apa kamu sudah berusaha sebelumnya untuk belajar?” tanya ayah kembali sembari
meminum kopinya. “Ya sudahlah yah, aku tu udah berusaha semaksimal mungkin tapi
tetep aja aku tidak bisa.” Jawab anak tersbut. “Anakku sayang, itu namanya
sebuah proses, yang namanya prose situ butuh waktu yang lama, tidak ada yang
instan, terkadang proses situ bisa saja menyakitkan, tidak ada proses yang
berjalan mulus begitu saja,” jawab ayahnya lagi.
Anaknya
hanya terdiam sambil melanjutkan tangisnya karena tidak paham dengan maksud
ayahnya tersebut. “Nak, kamu punya pensil?” tanya ayahnya. Anaknya pun
mengambilkan sebuah pensil pada tas gendongnya. “Tapi untuk apa pensil ini
Ayah?” tanya anak tersebut dengan bingung.
“Nak,
coba lihat kamu tahu pensil ini?” tanya ayahnya. “Maksudnya apa ayah” jawab anak
itu dengan semakin bingung. “Nah sekarang kamu punya serutan?” tanya ayahnya
kembali. Anaknya kembali mengambilkan serutan dari dalam tasnya. “Untuk apa
semua ini ayah?” tanya anaknya yang semakin bingung. “Sebentar nak, kamu lihat
aja apa yang ayah lakukan!” jawab ayahnya kembali.
Anak
itu hanya memerhatikan ayahnya yang sedang memperuncing pensil itu dengan
serutan tadi. “Nih, tau maksudnya ini nak?” tanya ayahnya kembali. “Apaan itu
yah, itu kan pensilku, apa hubunganya pensil ku dengan belajar matematika dan
bahasa inggris?” jawab anak itu dengan
nada bingung. Ayahnya hanya tersenyum melihat anaknya yang semakin bingung.
“Nak,
ketahuilah pensil ini sebelumnya tumpul, untuk melukis atau menggabar dengan
hasil yang baik pensil ini perlu diruncingkan,” jawab ayahnya. “Maksudnya
gimana ayah?” tanya anaknya kembali. “Jadi begini nak, saat di runcingkan,
pensil ini mengalami yang namanya sebuah proses, proses yang menyakitkan, yang
melukai pensil ini sendiri sampai akhirnya pensil ini menjadi runcing dan siap
untuk digunakan.” Jawab ayahnya. Anaknya hanya terdiam dan berhenti dari
tangisannya.
“Nak,
kamu itu ibarat seperti pensil ini, untuk menjadi sukses kamu harus mengalami
proses yang menyakitkan, yang membuat kamu terluka, yang membuat kamu jatuh
bahkan dilecehkan, itu semua sebuah proses, nak. Tapi ini semua adalah proses
yang lazim.” Jawab ayahnya. “Tapi ayah…” ayahnya memotong pembincaraan anaknya.
“Nak, di dunia ini tidak ada yang instan, semua butuh proses nak dan kamu harus
menyadari hal itu.” Jelas ayahnya. Anaknya hanya terdiam mencoba meresapi
perkataan ayahnya.
“Nak,
asah terus kemampuan kamu, sampai kamu menjadi ahlinya, walapun itu harus kamu
lewati melaui proses yang menyakitkan. Ayah yakin jika kamu mampu melewati
proses itu, kamu akan bisa menjadi orang yang sukses dan berhasil. Mungkin itu
adalah sebuah jalan yang kamu tempuh untuk menggapai semua kesuksesan kamu
nak.” Terang ayahnya kembali.
“Oh
jadi begitu ya ayah?” tanya anaknya
kembali. “Iya nak, kamu harus bisa, kamu paham maksud ayah?” tanya ayahnya.
“Iya ayah aku mengerti.” Jawab anaknya kembali.
“Anakku
sayang, pensil itu yang terpenting adalah dalamnya, isi pensil itu sendiri.
Percuma pensil bagus tapi dalamnya jelek. Seperti manusia, Nak, jangan menilai
orang dari luarnya, belum tentu luaranya
sama dengan dalamnya, begitu sebaliknya. Nak, percayalah, ayah yakin kamu
adalah sebuah pensil yang arangnya baik.” Jelas ayah sambil meyakinkan anaknya.
Anaknya hanya terdiam sambil mengangguk memahami setiap ucapan ayahnya.
“Ayah,
terimaksih ya, aku jadi semangat untuk terus belajar dan belajar agar aku
menjadi orang yang sukses” kata anak tersebut dengan penuh semangat dan
keyakinan.
Segala
sesuatu harus mengalami yang namanya sebuah proses yang panjang dan
menyakitkan. Apabila kita mampu melewati hal tersebut niscaya aka nada sesuatu
yang indah di balik sebuah proses tersebut. Bersabaralah dan semangatlah
menjalani semua proses tersebut karena tidak ada sesuatu yang instan di dunia
ini. Gagal adalah awal dari sebuah kesuksesan, bangkit dan bangkitlah demi
sebuah kesuksesan.
Garam dan Telaga
Rudi menceritakan pengalaman pahit
dalam hidupnya. Dia merasa hidupnya terlalu pahit dibandingkanorang-orang yang
berada di sekitarnya. Kemudian temannya mengambil segelas air yang berisi
garam. “Udah, nih minum dulu biar hatimu adem.”
Rudi memimun air tesebut kemudian
menyemburkan air itu. “Loh, kok asin begini?” temannyan pun menjawab “Aku
sengaja ngasi garem di gelasnya tadi.”
“Apa-apan ini?”
“Udah jangan banyak mengeluh, hidup
memang terkadang pahit dan ada kalanya kita gagal. Kamu ikut aku sekarang, ada
yang mau aku tunjukin. Semoga ini bermanfaat bagi kamu.”
Temannya mengajak Rudi ke sebuah telaga dan di sana
temannya menaburkan segenggam garam pada telaga tersebut. “Itu apaan yang kamu
tabur tadi?”
“Itu garam yang sama, yang aku kasi
dalam gelas tadi” kata temennya sambil tersenyum. Rudi pun kebingungan untuk
apa gelas dan garam itu. Temannya tersebut menyuruh Rudi untuk merasakan air
yang ada ditelaga itu setelah ia menaburkan garam. “Rasanya tawar.” Sambil
kebingungan. “Kalau air yang di gelas tadi rsanya bagaimana?” tanya temannya
kembali. “Rasanya asin.” Jawab Rudi. “Nah, sekarang apa kamu merasakan garam
ditelaga ini?” tanyanya lagi sambil tersenyum. “Enggak.” Jawab rudi denga muka
yang benar benar bingung. Kemudian temannya mengajaknya untuk kembali ke tempat
semula. Kemudian temannya tersebut menjelaskan apa maksud garam dan telag
tersbeut.
“Begini kawan, pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tidak kirang dan tidak lebih. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama dan memang akan tetap sama. Tapi kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalm hidup hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Jangan jadikan hatimu seperti gelas buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu.” Rud pun merenungi kata-kata temannya tersebut.
Keajaiban
Doraemon
Oleh
: Anak Agung Indah Swandewi
Wira
adalah anak laki-laki yang nakal. Dia sering membuat teman-temannya menangis
karena ulahnya. Dia selalu bersikap jail dan jahat. Selain itu jika wira
menolong seseorang, dia harus mendapatkan imbalan baik berupa uang maupun
pujian. Hal ini membuat teman-temannya menjauhi dan tidak mau bermain dengan
wira.
Suatu
hari ketika wira sedang duduk di halaman rumahnya, tiba-tiba kakak perempuan
wira yang bernama dewi datang. Dewi duduk di samping wira. Wira hanya menoleh
sebentar lalu kembali memalingkan wajahnya dari dewi. "Kenapa kamu tidak
pergi bermain bersama teman-temanmu?" Tanya dewi. "Mau bermain dengan
siapa? Semua temanku tidak ada yang mau bermain bersamaku", jawab wira.
"Kenapa begitu? Apa yang kamu lakukan hingga mereka menjauhimu?"
Tanya dewi lagi. Wira terdiam. Kemudian dia menjawab, "Aku tidak melakukan
apa-apa. Mereka saja yang terlalu cengeng. Aku hanya bercanda tetapi mereka
malah menangis." Dewi menghela nafas panjang. "Wira, teman-temanmu
tidak akan menangis jika kamu tidak menyakiti perasaan mereka. Harusnya jika
kamu ingin bercanda, bercanda lah sewajarnya", ucap dewi. "Oh iya,
kakak dengar katanya kamu sering menolong orang dengan pamrih, apa itu
benar?" Tanya dewi pada wira. Dengan spontan wira menjawab, " iya
memangnya kenapa? Bukankah orang yang sudah menolong orang lain wajib
mendapatkan imbalan?" Dewi menggeleng pelan mendengar jawaban adiknya.
"Wira,
pernahkan kamu menonton kartun doraemon?" Tanya dewi. "Tentu saja
pernah, bahkan setiap hari minggu aku menontonnya", jawab wira.
"Sekarang coba perhatikan sifat doraemon, menurutmu bagaimana
sifatnya?" Tanya dewi lagi. "Menurutku, doraemon itu penuh dengan
keajaiban. Dia selalu menciptakan sesuatu yang baru dan berguna bagi banyak
orang. Selain itu, doraemon juga selalu menolong orang lain tanpa pamrih.
Karena hal itulah doraemon memiliki banyak teman", jawab wira lantang.
Dewi tersenyum mendengar jawaban adiknya. "Sama seperti dirimu wira. Jika
kamu ingin memiliki banyak teman, maka kamu harus berbuat baik kepada siapa
saja tanpa pamrih, buat temanmu tertawa bukan menangis, dan buat lah suatu
keajaiban agar teman-temanmu betah bermain bersamamu. Dengan begitu kamu tidak akan kesepian lagi",
jelas dewi. Mendengar hal itu wira menjadi sadar ternyata selama ini sikapnya
yang membuat dia tidak memiiki teman.
Sejak
saat itu wira pun merubah sikapnya. Dia selalu bersikap baik kepada siapa saja
dan mulai menolong banyak orang tanpa pamrih. Wira juga mulai membuat keajaiban
dengan menciptakan berbagai permainan dan suasana yang menyenangkan layaknya
doraemon yang selalu menciptakan hal baru yang bermanfaat. Kini wira mampu
membuat teman-temannya tersenyum dan tertawa. Dia pun memiliki banyak teman dan
tidak kesepian lagi.
NAhhh... demikian tuh, semoga cerita ini dapat menginspirasimu ya...!